Konflik Timur Tengah Perang Sunni vs Syiah

Posted on

Memahami konflik Sunni-Syiah, merupakan salah satu pembahasan hangat di kabar berita timur tengah. Konflik antara dua aliran yang berbeda ini telah menghasilkan begitu banyak peristiwa yang meluluh lantakkan beberapa negara, sebut saja Irak. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran Arab Saudi yang notabene beraliran Sunni, akan penetrasi Iran yang beraliran Syiah. Selain itu tercampurnya kepentingan geopolitik dan kepentingan geostrategis, serta adanya kepentingan dari pihak-pihak lainnya.

Lebih lanjut tentang kabar berita timur tengah terbaru ini, seperti dilansir oleh matamatapolitik bahwa  Arab Saudi menganggap dirinya sebagai pemimpin Sunni di seluruh dunia, lantaran di wilayah tersebut terdapat dua kota suci bagi umat Islam, yakni Mekkah dan Madinah. Sementara di lain pihak, saat terjadinya revolusi Iran di tahun 1979, negara tersebut (Iran), menasbihkan negaranya sebagai pemimpin Syiah.

Seperti tersebut di atas, salah satu penyebab konflik Sunni-Syiah adalah kepentingan geopolitik. Tatkala Arab Saudi (Sunni) dan Iran (Syiah) saling berusaha mempengaruhi negara-negara sekitar. Arab Saudi bersama sekutunya (Amerika Serikat), berusaha menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa program denuklirisasi milik Iran adalah sebuah keharusan, karena dianggap membahayakan tata aturan dunia. Hal ini berimbas pada dijatuhkannya embargo kepada Iran yang menolak untuk dilucuti persenjataannya berupa nuklir bertahun-tahun lamanya, bahkan tidak ada tanda-tanda dicabutnya sanksi ekonomi hingga sekarang.

Ada beberapa kejadian yang memperuncing ketegangan di antara dua negara ini:

  • Digulingkannya Saddam Husein pada tahun 2013

Saddam Husein adalah seorang Sunni dan pemimpin negara Irak. Saat itu Iran menganggap Saddam Husein adalah penghalang masuknya sekte Syiah di negara tersebut. Di sini Iran bertindak menggunakan proxy war. Sepeninggal Saddam Husein, pengaruh Syiah mengalami kemajuan pesat.

  • Banyak pemberontakan yang terjadi di seluruh wilayah Arab di tahun 2011

Pemberontakan ini membuat stabilitas politik di negara-negara yang bertikai menjadi sangat buruk.

  • Konflik menyebar hingga ke Suriah

Iran serta Rusia, mendukung Presiden Bashar Al-Assad untuk mengalahkan pemberontak yang berusaha untuk menguasai Suriah.

  • Saudi Arabia berusaha menahan masuknya pengaruh Iran di Yaman

Dikabarkan bahwa Saudi Arabia menggunakan proxy war-nya dalam rangka menahan hegemoni Iran yang mulai masuk ke Yaman. Peperangan masih berlangsung hingga hari ini, dan telah terjadi sepanjang kurun waktu, tiga tahun.

Perkembangan berita timur tengah di matamatapolitik menunjukkan bahwa belum ada kepastian kapan akan berakhirnya konflik di Timur Tengah ini. Pertempuran ini diperkirakan dapat meluas hingga ke luar wilayah Timur Tengah, seperti AS dan negara-negara barat yang memiliki kepentingan ekonomi di dalamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.